Menteri Basuki mengatakan, dalam
mendukung pencapaian target pelayanan air minum 100% serta menindaklanjuti Nota
Kesepakatan antara Menteri PUPR, Menteri
Dalam Negeri dan Gubernur DKI Jakarta pada 3 Januari 2022 lalu, Kementerian
PUPR dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersinergi mengembangkan Sistem
Penyediaan Air Minum (SPAM) di sisi hulu dan hilir.
“Kalau semua proyek SPAM ini sudah bisa
kita selesaikan sesuai timeline dan bisa mensupply rakyat DKI Jakarta, maka
pada tahun 2030, Pemerintah bisa menyampaikan kepada rakyat untuk stop pakai
air tanah. Hanya dengan upaya itu penurunan air tanah di DKI Jakarta bisa
dihentikan,” kata Menteri Basuki.
Pembangunan akses perpipaan air minum
ini dilakukan sebab DKI Jakarta memiliki tantangan penurunan muka air tanah
sebagai dampak dari ekstraksi air tanah.
Untuk menyelesaikan tantangan tersebut,
diperlukan peningkatan pelayanan perpipaan air minum yang saat ini cakupan
pelayanannya masih 65%. Dibutuhkan pasokan air sebesar 31.875 liter per detik
pada Tahun 2030 untuk mencapai cakupan pelayanan air minum perpipaan 100%.
Pembangunan sisi hulu meliputi SPAM
Regional Jatiluhur I sebesar 4.000 liter per detik, SPAM Regional
Karian-Serpong sebesar 3.200 liter per detik, dan SPAM Ir. H. Djuanda dengan
indikasi sebesar 2.054 liter per detik. Sementara itu, pada sisi hilir,
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan optimalisasi aset eksisting SPAM dan
pembangunan baru untuk mendukung SPAM Regional Jatiluhur I dan SPAM Regional
Karian- Serpong, menggunakan skema bundling dengan biaya modal sebesar Rp26,7
Triliun.
“Pada hari ini, pembiayaan sisi hilir
akan diwujudkan melalui penandatanganan fasilitas kredit antara PT Air Bersih
Jakarta dengan Sindikasi Kreditur untuk 2 (dua) tahun pertama dengan biaya
modal sebesar Rp12 Triliun yang terdiri dari pinjaman sebesar Rp8,8 Triliun dan
ekuitas pemegang saham,” tambah Menteri Basuki.
Menteri Basuki berharap dengan
penandatanganan fasilitasi kredit ini, dapat meningkatkan pelayanan air minum
di DKI Jakarta, serta mendukung iklim investasi Indonesia, khususnya bidang air
minum. “Saya ucapkan selamat pada dan terima kasih pada Sindikasi Kreditur
sudah mendukung proyek Pemerintah Indonesia untuk melayani rakyat melalui skema
KPBU ini. Saat ini cakupan pelayanan perpipaan air minum masih 65%, dan dengan
3 proyek tersebut mudah-mudahan target 100% pada tahun 2030 dapat tercapai,”
jelas Menteri Basuki.
CEO PT Moya Indonesia Mohamad Selim
berterimakasih kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian PUPR dan
Pemprov DKI Jakarta. “Penandatanganan fasilitas kredit antara PT Air Bersih
Jakarta dan 8 konsorsium keuangan merupakan awal dari milestone project SPAM
DKI Jakarta. Terdapat perencanaan bahwa pada 2 tahun pertama, kami akan
membangun 2500 km pipa yang melayani 350.000 Sambungan Rumah (SR). Kalau tidak
ada halangan yg berarti, April kita akan memulai pekerjaan ini,” jelas Mohamad
Selim.
Sementara, Direktur Bank BCA Tbk
Antonius Widodo Mulyono yang menjadi leader lembaga perbankan dalam proyek ini
mengatakan, sektor finansial berkomitmen untuk mendukung pembiayaan
infrastruktur dasar Pemerintah Indonesia, termasuk di luar proyek air minum.
“Terima kasih kepada semua stakeholder
yang terlibat dalam project ini, kami mewakili sektor finansial siap dari sisi
financial support, dan kami berharap proyek ini dapat berjalan sesuai rencana,”
tandas Antonius.
Turut hadir dalam kegiatan, Kepala
Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Reda Manthovani, Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI
Jakarta Yusmada Faizal, Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Mohammad Zainal
Fatah, Direktur Jenderal Cipta Karya
Kementerian PUPR Diana Kusumastuti, Direktur Jenderal Pembiayaan
Infrastruktur Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna, Staf Ahli Menteri PUPR
Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja, CEO PT Moya
Indonesia Mohamad Selim, Direktur Utama PT Air Bersih Jakarta L. Bano Rangkuty,
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin, Direktur PT Bank Central Asia Antonius
Widodo Mulyono, serta perwakilan PT Bank Tabungan Negara (Persero), PT Sarana Multi
Infrastruktur (Persero), PT Bank Bukopin Tbk, PT Bank BTPN Tbk, OCBC Bank, PT
OCBC NISP, PT Bank China Construction Bank Indonesia, dan Bank DKI. (*)
Beri komentar