
Para peserta menyadari bahwa sekadar mengunggah konten saja tidak cukup untuk menarik perhatian. Menurut salah satu anggota tim media KSPI yang ikut pelatihan, "dibutuhkan pendekatan teknis dan langkah terstruktur untuk menciptakan pesan yang mudah dipahami audiens, mulai dari pemilihan konsep hingga penulisan narasi yang ringkas dan relevan",
"Mereka memahami bahwa kemampuan dalam menyampaikan cerita yang baik adalah kunci agar isu-isu penting dapat diterima dengan lebih luas dan efektif oleh masyarakat",Imbuhnya.
Pelatihan kali ini memiliki fokus yang berbeda. Jika sebelumnya isu utama yang sering dikampanyekan terkait dengan upah, yang selalu menjadi pokok perhatian dalam pergerakan buruh Indonesia, kali ini pembahasan beralih pada Just Transition. Isu besar ini berkaitan dengan transisi menuju ekonomi yang berkelanjutan secara adil bagi para pekerja. Meskipun sering dibahas dalam ruang seminar elit, tema ini masih sulit diterima di tingkat akar rumput pekerja.
"Tantangan utama adalah bagaimana mengemas isu kompleks seperti Just Transition menjadi pesan yang dapat dirasakan langsung oleh pekerja dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak hanya menjadi jargon mewah tanpa dampak nyata. Dengan pendekatan yang tepat, istilah besar ini bisa menjadi solusi konkret untuk melindungi nasib pekerjaan sekaligus memastikan masa depan kehidupan keluarga mereka,"tandasnya.
Just Transition, atau transisi berkeadilan, adalah konsep penting yang menitikberatkan pada perlunya perubahan menuju ekonomi rendah karbon dijalankan tanpa merugikan pihak manapun. Inti dari konsep ini melibatkan penciptaan lapangan pekerjaan layak, penguatan perlindungan sosial, penyediaan pelatihan pekerja, hingga memastikan peran aktif berbagai pihak dalam pengambilan keputusan penting terkait kebijakan lingkungan dan perubahan iklim. Konsep ini berfokus pada inklusivitas dan keadilan, sekaligus mendorong kebijakan yang berorientasi pada hak asasi manusia dan pengurangan ketimpangan sosial.
Media sosial kini telah berubah menjadi medan perjuangan utama bagi berbagai isu strategis, termasuk hak-hak pekerja. Tanpa kemampuan narasi yang kuat, pesan sebaik apapun akan sulit memenangkan atensi publik di tengah dominasi algoritma. Dari pelatihan di ruang sederhana Hotel Amaris tersebut, disampaikan satu pesan penting bahwa perjuangan buruh harus mampu beradaptasi dan menang dalam perang narasi di dunia digital. (*/reel)
Beri komentar