Menteri ATR/Kepala BPN, Hadi Tjahjanto dalam kesempatan ini
menyampaikan bahwa jajaran Kementerian ATR/BPN terus berupaya untuk
menyelesaikan permasalahan pertanahan. Ia melanjutkan, tugas prioritas yang
harus dijalankan oleh Kementerian ATR/BPN sebagaimana arahan Presiden Joko
Widodo, yakni mempercepat pendaftaran tanah. Untuk itu, Kementerian ATR/BPN
menggencarkan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dengan tujuan
seluruh bidang tanah di Indonesia terdaftar pada tahun 2024.
“Apa yang sudah Bapak Presiden perintahkan kepada saya, yang
pertama adalah mempercepat program PTSL. Syukur Alhamdulillah, 81,6 juta bidang
tanah sudah terdaftar. Dengan skema yang sudah kita buat, tahun 2023 kita akan
membuat roadmap 11 juta sertipikat dan 11 juta peta bidang, begitu juga tahun
2024. Sehingga, akhir tahun 2024 kita sudah menyelesaikan perintah Bapak
Presiden adalah 126 juta bidang tanah terdaftar,” terang Menteri ATR/Kepala BPN
saat memberikan sambutan di kegiatan Tasyakuran tersebut.
Hadi Tjahjanto menganalogikan, tanah-tanah yang belum
terdaftar dan mengalami kendala di lapangan adalah sertipikat yang masih
“terbang”. Sebagai mantan Panglima TNI yang berasal dari Angkatan Udara, ia
menargetkan sertipikat tersebut dapat tersampaikan atau “mendarat” ke tangan
masyarakat. “Walaupun tentunya masih ada sedikit masalah, yaitu adanya
sertipikat yang terbang belum bisa mendarat. Tapi yakinlah, karena menteri ini
adalah mantan penerbang, bisa mendaratkan sertipikat itu,” tegasnya.
Pada kesempatan ini, Menteri ATR/Kepala BPN mengucapkan
terima kasih kepada seluruh jajaran di daerah, yakni Kepala Kantor Wilayah BPN
Provinsi dan Kepala Kantor Pertanahan atas kerja sama yang dilaksanakan dalam
rangka percepatan program PTSL serta penyelesaian konflik agraria dengan kerja
sama lintas sektor. “Alhamdulillah dengan kerja sama yang baik dengan
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dengan PT. Perkebunan
Nusantara (Persero) (PTPN), kita sudah bisa menyelesaikan semua,” tuturnya.
Dengan melakukan penyelesaian konflik agraria, ia berharap
agar Reforma Agraria dapat diwujudkan sesuai dengan Peraturan Presiden
(Perpres) Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria. “Sebanyak 10,2 juta
masyarakat Indonesia, hampir 90% nya itu hidup di kawasan hutan dan mereka
mengandalkan hidupnya di sumber daya hutan. Untuk itu, mari kita melaksanakan
tugas kita terkait Reforma Agraria untuk meredistribusi tanah di
wilayah-wilayah yang sudah menjadi Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA), agar
masyarakat dapat melakukan perekonomiannya dengan baik,” papar Hadi Tjahjanto.
Terkait dengan mafia tanah, ia meminta jajarannya untuk
berkomitmen dalam memberantasnya. Menteri ATR/Kepala BPN mengatakan, arahan
presiden untuk menggebuk mafia tanah di Indonesia harus dilaksanakan. “Sampai
saat ini, kita terus mengejar mafia tanah. Kita sudah tahu di mana tempatnya
dan kapan kita gebuk. Kita gebuk satu-satu tidak perlu langsung, tapi terakhir
baru kita gebuk yang paling besar. Dan saya berkomitmen untuk terus menggebuk
mereka. Mari sama-sama kita gebuk!” ungkap Hadi Tjahjanto.
Sebagai informasi, kegiatan Tasyakuran ini dihadiri oleh
Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN, Raja Juli Antoni beserta jajaran Pejabat
Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama di lingkungan Kementerian ATR/BPN. Turut
hadir Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono; sejumlah
mantan Menteri ATR/Kepala BPN, yaitu Hendarman Supandji, Ferry Mursyidan
Baldan, dan Sofyan A. Djalil. Pada kesempatan ini, Hendarman Supandji
menyampaikan pidato “Sekapur Sirih” sebagai menteri senior yang menjabat pada
periode tahun 2012-2014. (*/YS/PHAL)
Beri komentar