KSBSI.ORG,Ini sungguh tak mengada-ada: melihat sampul depan buku Rekson Silaban, Pergerakan Tanpa Batas saya jadi teringat Masjid Istiqlal, Jakarta, masjid kebanggaan bangsa Indonesia karya Friedrich Silaban, arsitek beragama Kristen.
KSBSI.ORG,Ini sungguh tak mengada-ada: melihat sampul depan buku Rekson Silaban, Pergerakan Tanpa Batas saya jadi teringat Masjid Istiqlal, Jakarta, masjid kebanggaan bangsa Indonesia karya Friedrich Silaban, arsitek beragama Kristen.
Ternyata, di dalam buku
garapan Marim Purba dan Sabam Sopian Silaban itu Rekson pun menyinggung
soal keyakinan dan percintaan. Suatu
hari, di Amerika, Rekson berdoa, “Tuhan … jika Engkau tidak setuju aku menikah
dengan perempuan beda keyakinan, tunjukkanlah aku perempuan satu keyakinan. Tetapi
bila tidak Kau tunjukkan, jangan salahkan jika aku harus menikahinya.” Kali ini dia benar-benar khusyuk
berdoa-meminta permohonan dari Tuhan. Saat itu usianya akan memasuki 34 tahun.
Sebagai tokoh aktivis serikat buruh Rekson sudah menjejakkan kaki
di semua benua, menghadiri pertemuan internasional. Di bawah subjudul Putri Dari Wuwuk (halaman 153) dikisahkan,
setelah menghadiri sebuah pertemuan, di kamar hotel Rekson merenung. Mimpinya
ingin melihat sudut-sudut bumi sudah tercapai. Ia berinteraksi dengan banyak
tokoh serikat buruh dari berbagai negara dengan beragam latar belakang
kebudayaan. Beberapa jadi sahabat. Bahkan, satu di antaranya, seorang perempuan
cerdas, kemudian menjadi kekasihnya.
Bagi Rekson, berpacaran sangat berbeda dengan perkawinan. Menurut
dia, perkawinan memiliki banyak indikator penentu, seperti kesediaan berpindah kewarganegaraan
dan kesiapan menerima pendapatan yang lebih rendah di negara yang berbeda.
Rekson berprinsip, urusan cinta personal tidak boleh mengalahkan
misi utama, yaitu proyek demokratisasi. “Berpacaran itu indah, tetapi misi
menumbangkan rezim tidak boleh terhalang,” kata Rekson, tanpa suara.
Maka, di Paris, Perancis dia mengambil keputusan penting: hubungan
dengan sang kekasih harus diakhiri. Setelah itu, di Amerika, dia berdoa khusuk
kepada Tuhan meminta perempuan pengganti yang seiman. Tiba di Tanah Air, belum
sampai 24 jam, Nokia-nya berdering.
“Apa kabar, Bang? Sedang di mana?”
kata suara perempuan, lembut, dari seberang sana. Itu adalah Merdi
Ervina Rumintjap, perempuan cantik asal Wuwuk, Minahasa Selatan, Sulawesi
Utara, yang sudah lama dikenalnya dan
pernah menjadi pacarnya. Singkat cerita, Melan, begitulah panggilannya, dan
Rekson akhirnya menikah di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Simpang Muara,
Tapanuli Utara, pada 12 Januari 2002. Melan adalah seorang jurnalis.
Hasil Dialog
Sosial
Peluncuran Pergerakan Tanpa Batas (Cetakan 1, 2021) dilakukan di
Medan, Sumatera Utara, pada 9 Februari 2021. Sofyan Wanandi, pengusaha dan
tokoh APINDO, menulis Kata Sambutan, sedangkan Yudi Latif, anggota Akademi Ilmu
Pengetahuan Indonesia, menulis Interlude.
Di dalam buku yang tebalnya lebih dari 240 halaman itu diceritakan
hasil pendekatan dialog sosial yang dilakukan Rekson. Pada 29 April 2013 Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono memanggil sejumlah pemimpin serikat buruh nasional ke Istana. Rekson
sigap merespons. Kepada SBY dia mengatakan, sebaiknya Indonesia meliburkan
buruh pada setiap tanggal 1 Mei seperti negara ASEAN lainnya. Di era Soekarno,
1 Mei libur, tetapi kebijakan tersebut dibatalkan oleh Presiden Soeharto.
”Ini adalah tahun terakhir Pak SBY sebagai presiden, kami ingin
Bapak dikenang buruh dalam sejarah sebagai presiden yang membuat 1 Mei libur.
Seperti dulu buruh mencintai Soekarno yang menetapkan 1 Mei libur,” kata
Rekson.
Rekson menambahkan, argumentasinya, bahwa selain untuk menghargai
buruh juga supaya Jakarta tidak macet saat buruh berdemonstrasi. Setelah berdiskusi dengan Menteri Tenaga
Kerja Muhaimin Iskandar, akhirnya SBY mengeluarkan keputusan libur untuk May
Day, 1 Mei.
Keputusan Presiden tentang libur setiap tanggal 1 Mei diumumkan di
area PT Maspion di Surabaya, Jawa Timur. Rekson sengaja diajak oleh SBY masuk
rombongan. Setelah diumumkan, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi memanggil Rekson
untuk bertemu dengan SBY dan beliau bertanya, ”Mas Rekson, are you happy?”
Tentu saja Rekson bahagia. Dengan pendekatan dialog sosial
tuntutannya dikabulkan. Dan memang, Sofyan Wanandi, pengusaha beken tokoh APINDO, dalamkKata
sambutan buku ini menggambarkan sosok Rekson sebagai seorang aktivis serikat
buruh yang berbeda dengan aktivis serikat buruh pada umumnya. Menurut Sofyan,
sejak awal memilih pendekatan dialog sosial dengan semua pihak. Pendekatan
dialog meminimalisasi korban, menurunkan biaya demo, mencegah relokasi.
”Ini pilihan pergerakan yang tepat,” tulis Sofyan.
Rekson bukan tipe orang yang ”berlagak dibutuhkan banyak orang”.
Ketika menjadi pejabat sebuah perusahaan
badan usaha milik negara Rekson selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak terperosok menjadi pejaban
‘beneran’. Dalam arti, berubah jadi birokrat yang sulit ditemui, sulit
dikontak, selalu memakai dasi, penuh warna protokoler, dan suka jaga image.
Rekson mengungkapkan (dalam Prolog), ”Jabatan tidak pernah
mengubah jati diriku. Jabatan juga tidak membuatku jauh dari teman-teman
lamaku. Semua orang bisa menghubungiku. Sejak dulu aku hanya memiliki satu
nomor seluler. Apalah artinya hidup bila tidak berarti buat banyak orang.”
Tekad menjadi orang yang berarti bagi banyak orang itu, misalnya,
tercermin dari keberhasilan Rekson meyakinkan pemerintah untuk mengeluarkan
kebijakan baru tentang perlunya menaikkan batas usia pekerja informal sebagai
peserta Jamsostek dari 55 tahun menjadi 60 tahun. Menurut dia, dengan keluarnya
kebijakan tersebut, puluhan juta pekerja yang sudah pensiun sebagai pekerja
formal dan menjadi pekerja informal akan terus mendapat perlindungan jaminan
sosial.
Rekson memang bukan tergolong pria yang mementingkan
penampilan. Bahkan, Rekson dinilai
sebagai laki-laki dari daerah Siantar yang sederhana dan agak kampungan. Dan seperti ditulisnya di halaman 05,
“Sebaiknyalah hidup dirumuskan secara sederhana.”
Nyatanya, jabatan yang pernah Rekson pegang tidak sederhana: Ketua Umum Konfederasi Serikat Buruh Seluruh
Indonesia (2003-2007), Presiden Dewan
Eksekutif KSBSI (2007-2011), dan Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan. Dan di luar kegiatan organisasi buruh, ia
tercatat pernah menjadi Ketua Bidang Hubungan Internasional Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen
Indonesia. (Tim penulis: Usman Gumanti, Andreas Hutagalung)
Beri komentar